Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal stabilitas harga dan tingkat inflasi. Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatat inflasi tahunan sebesar 2,92% sepanjang tahun 2025, menunjukkan bahwa kenaikan harga barang dan jasa tetap berada dalam rentang yang terkendali.
Angka Inflasi Tahunan 2025
Inflasi tahunan dihitung dengan membandingkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2025 dengan Desember 2024. Menurut BPS, pada Desember 2025 terjadi inflasi sebesar 0,64% secara bulanan, yang berkontribusi pada laju inflasi tahunan sebesar 2,92%. Angka ini sama dengan realisasi inflasi tahun kalender yang juga mencapai 2,92%, karena pembandingnya adalah titik data yang sama (Desember ke Desember).
Menurut artikel Bank Indonesia: Secara historis, angka ini mencerminkan kenaikan harga yang masih moderat dan berada dalam target inflasi Bank Indonesia (BI) yaitu 2,5% ±1%. Menjaga inflasi dalam kisaran target BI sangat penting untuk memastikan daya beli masyarakat, stabilitas pasar, dan ekspektasi harga tetap dalam kendali.
Data inflasi Indonesia yang menunjukkan 2,92% pada akhir 2025 juga tercatat oleh TradingEconomics sebagai angka annual inflation (CPI) tertinggi sejak beberapa bulan sebelumnya namun masih dalam target BI. Inflasi tahunan tersebut meningkat dari bulan sebelumnya, mencatat angka tertinggi sejak April 2024.
Sementara itu, statistik Bank Indonesia menunjukkan secara rinci perkembangan inflasi Indonesia sepanjang 202, misalnya inflasi tahunan 2,65% pada Oktober dan 2,72% pada November sebelum mencapai 2,92% di Desember. Tren ini menggambarkan kenaikan bertahap sepanjang tahun yang tetap terkendali.

Sumber: Bank Indonesia
Komponen Inflasi yang Mempengaruhi Angka Tahunan
Inflasi tidak terjadi secara merata di semua komoditas, tetapi ada beberapa faktor utama penyumbang:
- Kelompok volatile food (makanan yang harganya mudah berubah), seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah, memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi bulan Desember 2025, terutama karena gangguan cuaca dan permintaan tinggi pada periode liburan akhir tahun.
- Kelompok administered prices, yaitu harga barang yang diatur oleh pemerintah, juga ikut mendorong kenaikan pada beberapa komponen IHK, termasuk komoditas tertentu yang dipengaruhi kebijakan harga.
Kelompok inti inflasi yang mengecualikan volatile food dan administered prices relatif stabil dan terkendali, yang menunjukkan bahwa kenaikan harga tersebut lebih dipengaruhi oleh dinamika tertentu di beberapa sektor daripada tekanan harga yang luas di seluruh ekonomi.
Mengapa Inflasi Tetap dalam Target BI?
Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi tahunan sekitar 2,5% ±1% untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Penetapan target ini memberikan ruang bagi kebijakan moneter agar dapat mendukung pertumbuhan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Selama 2025, stabilitas harga tercapai melalui berbagai upaya, seperti:
- Kebijakan moneter yang akomodatif namun tetap waspada terhadap tekanan harga yang tidak terduga.
- Pengendalian harga komoditas pokok melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
- Pemantauan dan pengendalian distribusi barang kebutuhan pokok agar pasokan tetap lancar.
Dengan inflasi berada di bawah batas atas target BI (3,5%), Bank Indonesia memiliki ruang kebijakan untuk menjaga suku bunga dan likuiditas yang mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa harus terlalu agresif menaikkan suku bunga.
Dampak Inflasi pada Masyarakat dan Ekonomi
Inflasi yang moderat pada 2,92% berdampak positif pada berbagai sektor:
- Daya beli masyarakat tetap relatif stabil, sehingga konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor utama PDB tidak terlalu tertekan.
- Stabilitas harga bahan pokok membantu kelompok berpendapatan rendah dan menengah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
- Ekspektasi inflasi yang terjaga menciptakan kepastian bagi pelaku usaha dalam merencanakan investasi dan harga produk.
Secara keseluruhan, inflasi 2,92% menunjukkan bahwa meskipun harga beberapa komoditas meningkat, pengendalian secara struktural dan kebijakan yang proaktif berhasil menjaga tekanan harga dari menjadi tidak terkendali.

