Volatilitas tinggi mewarnai perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada 28 hingga 29 Januari 2026 seiring dengan pemberitahuan dari MSCI. Di tengah tekanan tersebut, saham konglomerat kompak terkoreksi, sedangkan saham dengan fundamental solid menunjukkan ketahanan dan pemulihan yang relatif kuat.
Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap sentimen global, sekaligus perubahan fokus investor yang mulai lebih selektif dalam memilih saham di tengah ketidakpastian.
Sentimen MSCI Tekan Saham Konglomerat
Tekanan terhadap saham konglomerat terjadi pada perdagangan Selasa–Rabu (28–29 Januari 2026), setelah MSCI menyampaikan pemberitahuan terkait evaluasi dan penyesuaian indeks saham Indonesia. Saham-saham dengan kepemilikan asing besar dan bobot signifikan di indeks global menjadi sasaran utama aksi jual.
Aksi jual tersebut dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap:
- Potensi perubahan bobot saham dalam indeks MSCI
- Risiko tertahannya aliran dana indeks pasif global
- Tingginya sensitivitas saham konglomerat terhadap arus dana asing
Akibatnya, saham-saham milik kelompok usaha besar terlihat bergerak serempak di zona merah dalam dua hari perdagangan tersebut.
Saham Fundamental Lebih Tahan Banting
Di tengah tekanan yang terjadi pada 28–29 Januari 2026, saham-saham berfundamental kuat justru menunjukkan daya tahan yang lebih baik. Emiten dengan kinerja keuangan solid, arus kas stabil, serta prospek bisnis yang jelas dinilai mampu meredam dampak sentimen negatif.
Setelah koreksi tajam di awal, sejumlah saham fundamental mulai mencatatkan rebound yang cukup agresif, didorong oleh:
- Aksi beli selektif dari investor jangka menengah dan panjang
- Valuasi yang semakin menarik pasca penurunan
- Kepercayaan pasar terhadap fundamental perusahaan yang tetap terjaga
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan akibat isu MSCI tidak berdampak merata ke seluruh saham.
Investor Mulai Selektif di Tengah Gejolak
Pergerakan pasar pada periode tersebut memperlihatkan pergeseran strategi investor. Di tengah gejolak yang dipicu sentimen global, investor cenderung mengurangi eksposur pada saham yang rentan terhadap arus dana asing, sekaligus mulai mengalihkan perhatian ke saham dengan fundamental kuat.
Fenomena 28–29 Januari 2026 ini menjadi pengingat bahwa dalam kondisi pasar yang bergejolak, kualitas fundamental emiten menjadi penentu utama dalam menjaga kepercayaan investor dan potensi pemulihan harga saham.

